Internet
bagaikan pisau bermata dua bagi para musisi Indonesia, disatu sisi
mereka bisa mempromosikan lagu terbaru mereka lewat youtube dan situs
lainnya secara gratis sehingga nama mereka lebih cepat dikenal. Tapi
disisi lain banyak orang download lagunya secara gratis dari internet. Download
gratis tentu saja merugikan para musisi tersebut. Saat ini industri
musik Indonesia seolah digempur oleh 2 musuh tangguh yaitu download MP3
gratis dan CD bajakan sehingga membuat industri musik semakin terpuruk
dan para musisi kian merana karena akhirnya lebih berharap dapat
keuntungan dari download RBT (Ring Back Tone) daripada penjualan CD.
Sebenarnya
Industri musik diluar negri juga merasakan dampak negatif internet
tersebut, di berbagai Negara penjualan album musik mengalami penurunan
drastis. Majalah musik Billboard memperlihatkan data penjualan album
yang semakin memburuk sejak tahun 2000. Datanya bisa dilihat di link ini
Tapi para pelaku industri musik di luar negri lebih gesit untuk
berusaha mengatasi hal itu, di Amerika misalnya seseorang bisa didenda
dan dihukum karena melakukan download atau sharing MP3
secara ilegal. Para musisi dilindungi secara hukum sehingga mereka
masih bisa memperoleh keuntungan dari penjualan lagunya yang di download lewat internet, sebagian besar website di luar negri saat ini mengharuskan para netter untuk membayar setiap lagu yg di downloadnya.
Terobosan juga dilakukan olehApple coorporation,
yang melihat maraknya download MP3 sebagai lahan bisnis baru dan
membuat website yang menjual musik secara online, setiap orang bisa mendownload berbagai lagu MP3 yang ada di iTunes Store dan harganyapun bervariasi mulai dari USD 0,99 perdownload 1 lagu. Website iTunes bisa lihat disini
Walau
penjualan CD menurun drastis, musisi luar negri masih bisa meraup uang
dari penjualan lagu secara online, penjualan karcis konser, cindera
mata dan royalti lagu. selain itu, fakta dan data yang dibuat oleh
majalah Jerman Der Spiegel edisi terbaru menunjukkan bahwa peminat konser musik secara live di Jermanmalah
semakin meningkat jumlahnya.
Kalau dulu masyarakat lebih suka beli cd
daripada pergi ke konser, sekarang sebaliknya setelah mudah mendapatkan
lagunya lewat internet para pecinta musik justru penasaran ingin melihat
konser musisi favoritnya. Akhirnya Live concert saat ini seolah menjadi primadona bagi para musisi di Jerman untuk tetap mendulang uang.
Tapi yang terjadi di Indonesia sungguh menyedihkan, selain harus menghadapi CD bajakan dan download
gratisan di Internet, para musisi juga tidak bisa mengharapkan banyak
keuntungan dari royalti lagu dan penjualan tiket konser karena sebagian
besar konser musik di Indonesia gratis sebab sudah ada sponsor.
Padahal Live Concert
adalah ajang yang terbaik untuk membuktikan apakah musisi itu
berkualitas atau tidak? Dengan menjual karcis untuk konser mereka,
sebenarnya itu juga merupakan seleksi alami apakah penyanyi atau band
layak ditonton. Sehingga yang konsernya memuaskan penonton dan tiketnya
laku maka dialah yang akan bertahan dalam industri musik.Tapi entah
kenapa konser musik di Indonesia kebanyakan gratis apa para musisi dan
produser sudah pesimis duluan bahwa tiketnya tidak akan laku?
Jika Live Concert
dengan jual karcis dianggap tidak memungkinkan, sebenarnya pemerintah
Indonesia bisa meniru Amerika dengan menegakkan hukum yang tegas tentang
ilegal downloading dan sharing MP3. Selain itu langkah baiknya jika perusahaan besar macam Sony, BMG, Aquarius, Musica dan label record yang ada di Indonesia berkolaborasi untuk membuat music store online macam iTunes.
Sehingga para musisi dari setiap label record bisa menjual lagunya di
toko musik online itu. Seandainya hal ini bisa direalisasi, bukan tidak
mungkin industri musik Indonesia kembali cerah dan para musisi tidak
hanya menggantungkan harapan pada download RBT saja.
Di
Amerika saja yang sudah berusaha keras mengatasi masalah ilegal
download penjualan album masih terus menurun. apalagi di Indonesia, di
era 80an seorang musisi masih bisa menjual jutaan album. saat ini bisa
laku 100 ribu album saja sudah luar biasa. Grafik dibawah ini
menunjukkan penjualan musik di Amerika menurun drastis lebih dari 5o%
sejak tahun 1999. Untuk melihat artikel lengkapnya klikdisini

