Thursday, March 21, 2013

Musisi Indonesia Semakin Merana



//www.google.com/
Sumber: foto http://www.google.com/

Internet bagaikan pisau bermata dua bagi para musisi Indonesia, disatu sisi mereka bisa mempromosikan lagu terbaru mereka lewat youtube dan situs lainnya secara gratis sehingga nama mereka lebih cepat dikenal. Tapi disisi lain banyak orang download lagunya secara gratis dari internet. Download gratis tentu saja merugikan para musisi tersebut. Saat ini industri musik Indonesia seolah digempur oleh 2 musuh tangguh yaitu  download MP3 gratis dan CD bajakan sehingga membuat industri musik semakin terpuruk dan para  musisi kian merana karena akhirnya lebih berharap dapat  keuntungan dari download RBT (Ring Back Tone) daripada penjualan CD.

Sebenarnya Industri musik diluar negri juga merasakan dampak negatif internet tersebut, di berbagai Negara penjualan album musik mengalami penurunan drastis.  Majalah musik Billboard  memperlihatkan data penjualan album yang semakin memburuk sejak tahun 2000. Datanya bisa dilihat di link ini Tapi para pelaku industri musik di luar negri lebih gesit untuk berusaha mengatasi hal itu, di Amerika misalnya seseorang bisa didenda dan dihukum karena melakukan download atau sharing MP3 secara ilegal.  Para musisi dilindungi secara hukum sehingga mereka masih bisa memperoleh keuntungan dari penjualan lagunya yang di download lewat internet, sebagian besar website di luar negri saat ini mengharuskan para netter untuk membayar setiap lagu yg di downloadnya. 

Terobosan juga dilakukan olehApple coorporation, yang melihat maraknya download MP3 sebagai lahan bisnis baru dan membuat website yang menjual musik secara online, setiap orang bisa mendownload berbagai lagu MP3 yang ada di iTunes Store dan harganyapun bervariasi mulai dari USD 0,99 perdownload 1 lagu.  Website iTunes bisa lihat disini
Walau penjualan CD menurun drastis, musisi luar negri masih bisa meraup uang dari penjualan lagu secara online,  penjualan karcis konser, cindera mata  dan royalti lagu. selain itu, fakta dan data yang dibuat oleh majalah Jerman Der Spiegel edisi terbaru menunjukkan bahwa peminat konser musik secara live di Jermanmalah semakin meningkat jumlahnya. 

Kalau dulu masyarakat lebih suka beli cd daripada pergi ke konser, sekarang sebaliknya setelah mudah mendapatkan lagunya lewat internet para pecinta musik justru penasaran ingin melihat konser musisi favoritnya. Akhirnya Live concert saat ini seolah menjadi primadona bagi para musisi di Jerman untuk tetap mendulang uang.
Tapi yang terjadi di Indonesia sungguh menyedihkan, selain harus menghadapi CD bajakan dan download gratisan di Internet,  para musisi juga tidak bisa mengharapkan banyak keuntungan dari royalti lagu dan penjualan tiket konser karena sebagian besar konser musik di Indonesia gratis sebab sudah ada sponsor. 

Padahal Live Concert adalah ajang yang terbaik untuk membuktikan apakah musisi itu berkualitas atau tidak? Dengan menjual karcis untuk konser mereka, sebenarnya itu juga merupakan seleksi alami apakah penyanyi atau band layak ditonton. Sehingga yang konsernya memuaskan penonton dan tiketnya laku maka dialah yang akan bertahan dalam industri musik.Tapi entah kenapa konser musik di Indonesia kebanyakan gratis apa para musisi dan produser sudah pesimis duluan bahwa tiketnya tidak akan laku?

Jika Live Concert dengan jual karcis dianggap tidak memungkinkan, sebenarnya pemerintah Indonesia bisa meniru Amerika dengan menegakkan hukum yang tegas tentang ilegal downloading dan sharing MP3. Selain itu langkah baiknya jika perusahaan besar macam Sony, BMG, Aquarius, Musica dan label record yang ada di Indonesia berkolaborasi untuk membuat music store online macam iTunes. Sehingga para musisi dari setiap label record bisa menjual lagunya di toko musik online itu. Seandainya hal ini bisa direalisasi, bukan tidak mungkin industri musik Indonesia kembali cerah dan para musisi tidak hanya menggantungkan harapan pada download RBT saja.

Di Amerika saja yang sudah berusaha keras mengatasi masalah ilegal download penjualan album masih terus menurun.  apalagi di Indonesia, di era 80an seorang musisi masih bisa menjual jutaan album. saat ini bisa laku 100 ribu album saja sudah luar biasa. Grafik dibawah ini menunjukkan penjualan musik di Amerika menurun drastis lebih dari 5o% sejak tahun 1999. Untuk melihat artikel lengkapnya klikdisini

//www.cnn.com/