OPINI | Minggu, 13 Januari 2013 | 04:53 WIB
Dibaca: 298

Sumber: Siap-siap berangkat menuju Lampung dan Palembang foto POC Facebook
Banyak cara dilakukan untuk mengisi libur panjang akhir tahun ini salah satunya adalah acara yang diselenggarakan oleh P.O.C (Pajero Owners Community) atau komunitas pemilik Pajero yaitu menjelajah Jakarta Lampung dan Palembang bersama keluarga atau Touring Family Adventure (TFA) yang dilaksanakan pada tanggal 29 Desember 2012 hingga 3 Januari 2013. Sejak dibentuk tanggal 24 Juli 2010 P.O.C sering mengadakan berbagai kegiatan seperti touring baik yang pulang pergi (Fun) atau menginap dan adventure (lintas propinsi) dan bakti sosial. Pada acara touring keluarga akhir tahun 2012 ini diikuti oleh 30 mobil dan sekitar 130 peserta yang terdiri dari orang tua dan anak-anak.
Saya ikut touring ini karena diajak Devi, seorang Ibu rumah tangga yang menyetir sendiri dari Jakarta hingga Palembang, suatu tantangan tersendiri bagi dia karena semula banyak yang khawatir, sanggupkah dia mengimbangi kekuatan fisik dan kecepatan mengemudi 29 peserta pria lainnya? Ternyata Devi mampu dan tidak tercecer dibelakang pada saat konvoi. Sebagai sesama wanita dan single Mom saya ikut merasa bangga ada wanita yang bisa setangguh pria diacara yang didominasi para penyetir pria sekaligus berperan sebagai ibu yang menyenangkan hati keempat anaknya yang sangat gembira karena ini pengalaman pertama mereka ke Sumatra, begitu pula para peserta touring lain sebagian besar memboyong keluarga mereka sehingga touring kali ini terasa lebih meriah oleh canda dan tawa anak-anak.

Sumber: Kiri Parkir di Kapal foto POC Facebook, Kanan suasana dikapal foto dokumentasi Pribadi
Tanggal 29 jam 9 pagi para peserta touring P.O.C berangkat dengan tujuan Bakauheni, setiba di Pelabuhan kami tidak bisa langsung berangkat karena harus menunggu kapal berikutnya, sekitar 1 jam kami menunggu hingga kapal datang dan kamipun segera mengatur mobil masing-masing ditempat parkir kapal. Suasana diatas kapal terlihat sesak dan harga makanan/minuman 3x lipat dari harga normal. Tapi Anak-anak terlihat begitu ceria karena sebagian besar baru pertama kali naik kapal laut.
Sekitar 2jam kemudian kami tiba di Lampung dan tujuan pertama adalah menara Siger yaitu menara yang menjadi titik nol di Sumatra Selatan dan pintu gerbang menuju Lampung, menara berlantai 6 yang menjadi kebanggaan warga Lampung itu dibangun pada tahun 2005 dan diresmikan tahun 2008 disana kami foto-foto sebentar lalu singgah di restoran Padang yang rendangnya maknyos banget. Setelah makan dan sholat, rombongan meneruskan perjalanan menuju kota Bandar Lampung. Touring dengan keluarga tentu sedikit lebih ribet dibandingkan sendirian, contohnya baru sekitar 30 menit kami keluar dari restoran, tiba-tiba anak paling kecil merengek ingin ke WC otomatis kami harus keluar dari rangkaian konvoi dan mencari pompa bensin terdekat. Tapi kami tidak sendirian ada sweeper yang menunggu dengan setia hingga selesai dan mendampingi kami hingga bisa menyusul grup dan kembali ke barisan.

Sumber: Menara Siger foto kiri Evando Priyanto kanan Dok Pribadi
Tempat singgah yang kedua adalah tempat pembuatan kapal laut di Lampung Utara setelah berbincang mengenai proses pembuatan kapal dan foto-foto kamipun melanjutkan perjalanan karena hari mulai gelap sementara perjalanan menuju kota Lampung masih 2-3 jam lagi. Karena sudah malam tak banyak yang bisa dilihat hanya kegelapan dikiri kanan. Setelah menempuh perjalanan sekitar 12 jam (mulai dari Jakarta) sekitar jam 8 malam, rombongan tiba di kota Lampung dan singgah untuk makan malam dan langsung menuju hotel untuk beristirahat karena esok paginya kami harus melanjutkan perjalanan ke Palembang. Setelah sarapan pagi, jam 9 kami berangkat dari Lampung menuju Palembang melalui rute jalan lintas Sumatra ini cukup bagus walaupun jalannya tidak lebar dan pemandangan kiri kanan leih banyak dipenuhi perkebunan. Sekitar jam 8 malam kami tiba di Palembang dan langsung makan malam bersama sebelum istirahat di hotel.

Sumber: Tempat pembuatan kapal Lampung foto dok pribadi
Esok paginya rombongan P.O.C mengunjungi pusat kerajinan kain songket yaitu Zainal songket ditempat ini pula baju pengantin anak SBY dibuat. Kain songket sering dijuluki Ratunya kain karena keindahan dan kerumitan pembuatannya harganya variatif dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Selain songket, Palembang juga terkenal dengan kain jumputan. Setelah melihat pembuatan songket rombongan menuju stadion olah raga Jakabaring salah satu stadium terbesar di Indonesia dan sempat menjadi tuan ruamah arena Sea Games 2011. Karena waktu begitu cepat berlalu kami segera meninggalkan Jakabaring untuk makan siang yang sudah agak telat dari jadwalnya. Setelah makan siang selesai sekitar jam 3 para anggota punya waktu bebas, anak-anak dan para ibu memilih tinggal di hotel dan berenang di kolam renang hotel sementara para bapak melakukan light offroad.

Sumber: Atas melihat pembuatan songket foto doc POC, Tengah Para Ibu di Jakabaring foto dok pribadi bawah para pria bergaya foto doc POC
Jam 9 malam para anggota P.O.C berkumpul untuk merayakan tahun baru 2013 dengan makan malam dan berbagai permainan menarik serta hiburan lainnya tepat pukul 12 malam hotel penyelenggara menyalakan kembang api dan sejauh mata memandang malam itu di Palembang penuh dengan cahaya berkilau kembang api dimana-mana. Sayang sekali kami hanya punya waktu 1 hari jadi belum puas rasanya menikmati keindahan kota Palembang bahkan kami tidak sempat melakukan wisata air dengan perahu karena waktunya yang sempit. Setelah pesta yang meriah para peserta kembali kekamar masing-masing karena besok pagi harus sudah pulang ke Jakarta.
Jam 11 rombongan menuju pelabuhan Bakauheni dengan rute berbeda dari waktu pergi kami juga melewati Kampung Neraka dan Mesuji jika melihat kondisi kedua kampung tersebut secara kasat mata terkesan damai , tentram dan subur tapi siapa sangka dibalik kedamaian itu tersimpan cerita seram. Mesuji mendadak tenar pada tahun 2010 dan 2011 lalu setelah terjadi peristiwa kerusuhan yang mengakibatkan sejumlah warga tewas akibat sengketa lahan antara penduduk dan pemilik perkebunan kelapa sawit (berita tentang Mesuji disini dan disini) sementara kampung neraka dinamai seperti itu konon karena daerah itu sangat rawan kejahatan sasarannya terutama truk-truk pengangkut barang yang melintasi sekitar situ. Rute balik ini jalannya tak sebaik rute pergi banyak jalan rusak dan ketika hari menjelang malam hujan sangat deras sehingga memperlambat waktu apalagi jalanan rusak dan gelap. Saya melihat dibelakang ada motor yang terus mengikuti rombongan P.O.C walau harus tancap gas nampaknya dia tak mau jalan sendirian dan memanfaatkan betul konvoi ini mengingat jalanan gelap, rawan dan menyeramkan pada malam hari. Jam 12 rombongan tiba di Bakauheni dan sekitar jam 3 rombongan sudah merapat ke Jakarta. Setelah mencari pompa bensin yang terdekat kami cipika cipiki mengucapkan perpisahan dengan para anggota P.O.C lainnya dan kamipun berpisah disana karena masing-masing anggota punya urusan sendiri ada yang harus langsung ngantor pula.

Sumber: Para pria menguji nyali diajang light Offroad foto doc POC FB
Karena anak-anak protes kuatir ibunya terlalu lelah untuk terus nyetir ke Bandung akhirnya kami istirahat dulu di Jakarta, baru berangkat jam 11 malam dan tiba di Bandung jam 2 pagi. Touring lintas propinsi memang sangat menyenangkan tapi kondisi fisik dan stamina harus benar-benar prima jika tidak pulang touring bisa terkapar apalagi ditengah musim hujan seperti saat ini. Seperti yang saya alami sebenarnya stamina sedang tidak fit akhirnya pulang touring langsung sakit radang tenggorokan dan flu berat sehingga terpaksa menulis artikel pengalaman menyenangkan pada saat touring harus mulur menunggu kondisi fisik sehat lagi.
Istilah dalam Touring :
Road Captain/Kommandeur = Pimpinan Touring
Vorijder = Yang mengatur jalan, harus tahu tehnik isyarat tangan dan komunikasi radio
Sweeper/Interzeptor = Pengatur barisan (formasi)
Technical Officer/Service = Tehnisi untuk kerusakan kecil
Medical = Yang bertanggung jawab atas kesehatan peserta touring
Press/News = Dokumentasi/Perjalanan