Friday, March 22, 2013

Tanpa Investigasi, Raffi Ahmad Dilaporkan Reporter R ke BNN

27 February 2013 | 07:10 Dibaca: 961

Raffi Ahmad dan Reporter R foto artis.inilah.com

Setahu saya yang namanya reporter itu wawasannya luas dan punya naluri investigasi. Aneh rasanya jika reporter melaporkan seseorang tanpa investigasi sebelumnya tapi hanya mengandalkan kata si A, si B, Si C Walau R banyak kenal selebriti karena dia reporter infotainment belum tentu dia tahu kehidupan seorang seleb secara mendetail. Belum tentu juga N yang kasih info ke R berkata benar. Hanya berdasarkan bisikan si N lalu reporter R melapor ke polisi?

Bukankah sebaiknya sebelum melapor pada pihak berwajib, reporter melakukan investigasi terlebih dulu? Lebih parah lagi ternyata R melaporkan Raffi hanya untuk dapat hak peliputan exklusif. Dari situ saja kita sudah bisa menilai bahwa niatnya melapor sudah salah. Karena dengan mendapat hak penyiaran eksklusif di TV tentang penangkapan seorang seleb terkenal dinegri ini otomatis namanya juga terangkat. Jika dia melaporkan Raffi karena nuraninya tergerak untuk melindungi generasi muda dari narkoba dan kelakuan Raffi itu contoh buruk bagi generasi muda saya salut tapi kalau melaporkan hanya untuk dapat hak liputan eksclusif di TV? Duh teganya... (ini beritanya: Alasan Pengakuan R Sebagai Pelapor Raffi Ahmad)
Sementara didaerah konflik perang banyak reporter yang harus kehilangan nyawa atau diculik karena investigasi demi berita yang akurat. Beberapa wartawan Indonesia juga tewas karena investigasi atau saat meliput kasus. Contohnya, Fuad Muhammad Syafruddin (Udin), wartawan Harian Bernas, Yogyakarta, pada 1989 yang tewas secara misterius. Para pelakunya hingga kini belum terungkap. Udin tewas, diduga terkait berita yang ditulisnya, yakni kasus korupsi di Bantul, Yogyakata. Lalu ada reporter stasiun televisi nasional RCTI, Sory Ersa Siregar, yang tewas saat meliput konflik Aceh di Langsa pada tahun 2003.
Wartawan koran Berita Sore, Medan, Elyudin Telaumbanua, yang diculik pihak tak dikenal di Pulau Nias, Sumatra Utara pada tahun 2005 hingga kini ia belum ditemukan. Wartawan lain yang menjadi korban tewas akibat tindakan kriminal yakni HerliYanto dari Tabloid Delta Post Sidoarjo, Jawa Timur, pada 2006. Anak Agung (AA) Gde Bagus Narendra Prabangsa, wartawan Radar Bali pada 2009 dan PN Balii ditemukan tewas mengambang di permukaan laut, 16 Februari 2009 dan diduga kematian korban terkait berita kasus korupsi yang ditulisnya Itulah contoh para pahlawan berita.
Engga usahlah kita ambil contoh ekstrem macam para pahlawan berita yang meliput kasus berat  atau para reporter perang yang liputannya penuh resiko, kita ambil contoh saja paparazzi. Demi mendapat selembar foto seleb incarannya mereka rela sembunyidan mengintai sang artis berhari-hari ada yang naik keatas pohon, dipukuli sama bodyguard sang artis dll tapi itulah pengorbanan paparazzi rela menderita walau untuk level infotainment sekalipun.
Sebenarnya mau meliput berita Hukum, politik atau infotainment, investigasi itu perlu sebelum melapor kepihak yang berwajib CEK dan RICEK dulu. Lebih baik lagi jika si reporter punya barang bukti yang bisa diperlihatkan saat melapor walau hanya selembar foto karena gimanapun juga seorang reporter dituntut untuk memberi berita yang akurat. Melapor tanpa bukti dan investigasi sebelumnya sama dengan menjerumuskan orang lain kejurang kehancuran. Akhirnya setelah BNN menggeledah rumah Raffi barang bukti yang ditemukan cuma 2 linting ganja doang. Masa pesta narkoba cuma ada 2 linting ganja plus supplemen yang diduga ada zat terlarang saja. Meriah amat ya pestanya...