Friday, March 22, 2013

Muslim Bersatu? Mimpi Kali yee!!


Jumat, 20 Juli 2012 | 19:11 WIB Dibaca: 313    
1342810891598985612
Muslim Unity foto www.uprootedpalestinians.blogspot.com
Sekarang dimana-mana timbul slogan perbedaan itu indah, perbedaan itu rahmat, sikapilah perbedaan dengan bijaksana dll,dst,dsb... hanya karena awal ramadhan berbeda. Jujur saya pribadi gerah dengan slogan itu karena saya sangat mendambakan umat Muslim bisa kompak dan bersatu. Apakah pemerintah dan para pemimpin Islam di Indonesia, tidak bisa bersatu setahun sekali saja demi rakyat dan umat Muslim Indonesia? Dibawah ini 4 poin yang saya salin dari tulisan Ust. Zulfi Akmal, MA:
Untuk mengawali Ramadhan:
1. Rasulullah hanya mengajarkan Rukyatul hilal, artinya TAMPAKNYA BULAN. Dan tidak pernah Beliau mengajarkan LAHIRNYA BULAN (Wujudul hilal). Sebab Beliau menyuruhkan: Puasalah karena menampak bulan. Jika "Ghumma" (berawan) atau "Ghubiya" (Tidak kelihatan) maka sempurnakan sya'ban 30 hari. Tidak ada gunanya rasulullah menggunakan ghumma dan ghubiya jika standarnya adalah lahirnya bulan. Sebab bulan lahir tak akan pernah tampak.
2. Keputusan awal bulan hanya menjadi hak Sultan (penguasa). agar umat bersatu dalam syiar Islam. Tidak ada satupun negara Islam didunia yg organisasi ikut2an mengumumkan kapan ramadhan, kecuali Indonesia.
3. Bila terjadi khilaf dalam penentuan awal ramadhan, maka keputusan penguasa menghapus perselisihan.
4. Untuk dipahami dan disadari bahwa sidang itsbat selama ini telah mengakomodasi dan mengikutsertakan semua kekuatan dan organisasi Islam di tanah air, maka hasil keputusannya itulah yang terbaik bagi umat Islam Indonesia. Jangan mengikuti Arab saudi dan negara lain. Karena fatwa mereka adalah untuk umat Islam di negeri mereka sendiri.
Seingat saya waktu zaman Pak harto nyaris ngga ada perbedaan awal ramadhan dan lebaran selalu kompak sehingga kegembiraan merayakan Lebaran terasa sekali indahnya. Tapi kenapa setelah reformasi sering terjadi perbedaan, baik pihak pemerintah atau aliran Islam yang ada sekarang seolah bersaing dan ngga kompak. Pemerintah ngga mau kalah dan para pemimpin aliran Islam juga sudah ngga peduli aturan pemerintah, menurut mereka pemerintah ngga berhak intervensi cara perhitungan dan keyakinan mereka dalam menentukan awal Ramadan dan Lebaran. Akhirnya ada yang mulai puasa itu Jumat bahkan ada yang hari Kamis.
Saya bukan penganut satu aliran tertentu, saya hanya Islam biasa yang kebetulan terlahir dari orang tua Islam boleh dibilang Islam KTP yang hanya berusaha menjalankan ajaran Islam sesuai Quran dan hadis, saya bukan termasuk orang yang beruntung lahir dilingkungan agamis atau pesantren tapi jauh dilubuk hati saya ada satu keinginan yang mungkin saat ini terasa mustahil alias mimpi belaka yaitu Islam bisa bersatu!
Tahun lalu saya sudah dibuat kesal karena yang lain sudah lebaran tapi kami masih puasa karena kami ikuti aturan pemerintah. Bukankah, HARAM hukumnya puasa dihari raya Idul Fitri atau Idul Adha jadi kalau yang lain sudah Lebaran kami masih puasa gimana itu hukumnya? Kadang bingung bagaimana lagi harus menerangkan ke anak-anak yang masih kecil tentang perbedaan ini. Mereka mana ngerti apa itu NU, Muhammadiyah, Tarekat Naqsabandiyah, Hilal, Hisab, dll. Yang mereka tahu Cuma puasa dan lebaran. Apa lagi yang harus saya katakan jika nanti lebaran beda lagi??
Ngga semua orang Islam paham dan mengenal secara mendalam agama Islam itu sendiri sehingga bisa santai menyikapi perbedaan itu karena ilmunya luas. Tapi jangan lupa, masih banyak yang kurang berilmu seperti saya yang sebenarnya sih keinginanya ngga macam-macam, kompak dong please !! walau hanya setahun sekali, jangan biarkan orang Islam akhirnya kecewa dengan pemerintah dan para pemimpin Islam lainnya. Jangan dikira masalah ini sepele, sekali dua kali masih bisa sabar dan toleransi menyikapi perbedaan ini tapi lama-lama kesal juga. Apa salahnya sih sekali dalam setahun membahagiakan umat Islam, bukankah bersatu dan memberi kebahagian itu amal yang baik?
Akhir kata, saya ucapakan selamat menunaikan ibadah puasa untuk umat muslim khususnya para kompasianer, mohon maaf jika tulisan ini terkesan emosional maklum sedang galau...