Friday, March 22, 2013

Pengalaman Pertama 'Dibantai' Para Pembaca


OPINI | Selasa, 19 Februari 2013 | 14:17 WIB Dibaca: 447    Komentar: 14   11 bermanfaat
1361279515157892263
blogging foto tentblogger.com
Menjadi blogger ternyata engga gampang kita benar-benar harus tahan mental menghadapi segala kritik, dan caci maki. Apalagi kalau kita punya blog sendiri, biasanya komentar para pembaca diblog pribadi lebih parah daripada blog 'keroyokan'. Sayapun pernah mengalami gimana rasanya artikel saya 'dibantai' para pembaca. Kalau ingat kesitu saya suka senyum sendiri...
Berawal dari keinginan saya nulis diblog untuk mengisi waktu apalagi saya jarang keluar rumah karena dulu tinggal diluar negri tapi didesanya dan jauh kemana-mana mau pergi juga malas rasanya, mendingan diam dirumah saja berselencar didunia maya sambil nunggu sidia pulang kerja. Sayapun mulai menulis walau masih amburadul karena untuk menulis 1 artikel saja terkadang butuh waktu berhari-hari.
Asalnya nulis diblog pribadi tapi sepi nyaris engga ada pengunjung, sayapun pindah keblog Detik (dulu belum tahu kompasiana). Beberapa kali menulis, pembaca sangat sedikit dan engga ada respon, tapi saya engga berhenti. Setelah beberapa kali menulis,  mulai ada 1-2 komentar itupun masih sopan dan pembacapun meningkat perlahan.
Suatu saat saya menulis tentang satu hal yang kontroversial. Perasaan sih tulisan saya biasa saja tapi entah kenapa artikel saya itu jadi HL diblog detik dan mejeng di halaman depan detik news tanpa diedit pula. Saya benar-benar baru tahu kalau artikel HL bisa mejeng di frontpage. Karena judul artikel saya ada kata 'telanjang' mungkin banyak orang penasaran dengan isinya apalagi ada foto sexy Beyonce. Artikel saya laku keras tapi efeknya, dari ratusan komentar yang masuk sebagian mencela dan menghina saya dengan kata-kata yang menyakitan
Bingung juga saat itu karena engga pernah dibully diinternet sebelumnya. Selama ini jika baca berbagai berita diinternet saya engga pernah komentar, saya termasuk pembaca pasif. Lalu tiba-tiba dibombardir kritik. Sedih dan malu rasanya apalagi saya pakai nama asli dan artikel plus komentarnya dibaca banyak orang pula. Karena engga biasa menghadapi hal itu, saya edit total artikel asli dan komentar yang kasar saya hapus hanya sebagian kecil yang saya balas.
Sejak itu saya jadi trauma dan malas ngeblog lalu beralih ke forum. Ternyata aktif di forum seperti Kompas, Detik dan Kaskus cukup efektif untuk melatih menghadapi berbagai kritikan, yang penting jangan ditanggapi terlalu serius bisa emosi dan sakit hati anggap lelucon saja karena banyak juga komentar yang lucu disana. Sayapun mulai terbiasa nerima berbagai komentar dari yang konyol, serius hingga sadis.
Engga hanya ikut jadi komentator, beberapa kali saya buat thread sendiri sekaligus uji nyali karena kalau threadnya kontroversial, berarti harus siap dicaci maki. Apalagi diforum orang bisa ngomong seenaknya, kalau melanggar paling dibanned dan bisa buat akun baru lagi. Setelah terbiasa gaul diforum, sayapun nulis diblog lagi. Beberapa tulisan saya sempat mejeng dihalaman depan lagi-lagi masih dicaci maki tapi karena mental sudah digodok di forum sayapun terbiasa menghadapi berbagai komentar dan kritik.
Sampai suatu saat entah kenapa saya engga bisa login keblog saya didetik walau sudah ganti password dan kirim surat ke admin berkali-kali engga dibalas, apa blog saya ada yang ngehack?? entahlah  sayapun pasrah saja kehilangan blog itu. Akhirnya saya nemu kompasiana dan ternyata disini lebih asyik, sempat nyesal juga kenapa engga nemu dari dulu??  jadi engga usah ngalami dibully.
Tapi kalau dilihat dari sisi positif, seandainya saya engga ngalami dibully mungkin saya bakal sensi dan mudah emosi jika tulisan saya dikritik. Nah dengan pengalaman itu, sekarang saya terbiasa menghadapi berbagai komentar walaupun dicela dengan kata-kata yang cetar membahana badai tapi kini mental saya jauh lebih tegar dibanding dulu. Benar apa kata otu terkadang kritik bisa menjadi cambuk penguat mental dan pemicu untuk membuat karya yang lebih baik dan bermutu...