Dibaca: 600 ![]() |
| Khadija Sex Shop foto impactlab.net |
Saat membaca berbagai berita dari mancanegara di internet pagi ini, saya tertarik dengan artikel yang ditulis
website majalah Jerman Spiegel tentang seorang wanita yang berani melawan hal Tabu di negaranya (Bahrain/Arab) dengan membuka Sex shop.
Kebetulan saya pernah tinggal di Qatar yang merupakan Negara tetangga
Bahrain. Sama dengan Qatar, Bahrain adalah Negara kecil tapi sangat kaya
karena minyak yang berlimpah. Qatar sendiri masih ketat melaksanakan
syariat Islam sehingga toko seperti itu tidak mungkin ditemui disana
tapi ketika membaca artikel tentang bisnis sex shop di Bahrain
saya terkejut juga ternyata Bahrain mulai longgar menerapkan syariat
Islamnya. Apakah karena kekayaan dan modernisasi di sebagian besar
Negara Arab sehingga semakin lama warga Arabpun sudah tidak fanatik lagi
(walaupun tinggal di Negara yang menetapkan syariat Islam).
Khadija Fashion Shop adalah toko
yang menjual aksesoris seks yang pertama dibuka di Bahrain menurut
pengakuan pemiliknya, Khadija Mohammed yang baru berumur 33 tahun,
tokonya itu sangat laku. Barang-barang di tokonya dia dapatkan dari
California dan China tapi ternyata tidak semua sex toys diperbolehkan
dijual di Bahrain hanya sebagian saja yang boleh dijual, barang-barang
yang menampilkan bentuk bagian badan manusia yang sensitive, termasuk
gambar, foto, buku dan video porno tidak boleh dijual karena hal itu
dilarang dalam Islam. Menurut Khadija yang paling laku adalah Lingerie dan Stileto yang sangat seksi, berbagai macam cream lalu asesori seperti latex, borgol, dll (peralatan untuk sadomasochism) cukup laris juga.
Khadija juga menerima pesanan dari Negara
Arab Saudi, sebelum dia membuka tokonya penjualan dilakukan secara on
line dan baru pada bulan Maret tahun ini Khadija berhasil menang di
pengadilan untuk membuka tokonya secara legal karena ada celah hukum di
Bahrain yang bisa dimanfaatkannya untuk membuka toko itu secara legal
dan dianggap halal. Selama ini Khadija tidak mendapat kesulitan apapun
atas bisnisnya, kesulitan muncul ketika orang tahu bahwa dia penganut
Syiah. Walaupun banyak Muslim Syiah di Bahrain namun elit politik
dipegang kalangan Muslim Sunni dan sudah sejak dahulu kala Syiah dan
Suni susah akur sehingga diapun terkadang dapat tekanan dari penguasa
setempat yang beraliran Suni.
Tapi sejauh ini Khadija bisa mengatasinya
dan dia berkata bahwa pelanggannya semakin banyak dan diapun mulai
kewalahan menerima order. Apakah sukses Khadija ini akan diikuti negara
Arab lain yang masih ketat menerapkan syariat Islam? Hal ini bukan tidak
mungkin terjadi mengingat hukum Islam yang semakin fleksibel karena
arus modernisasi dan Westernisasi.
