Thursday, March 21, 2013

Khadija Mendobrak Tabu Di Bahrain

 25 September 2010 | 04:53 Dibaca: 600  


Khadija Sex Shop foto impactlab.net

 Saat membaca berbagai berita dari mancanegara di internet pagi ini, saya tertarik dengan artikel yang ditulis website majalah Jerman Spiegel tentang seorang wanita yang berani melawan hal Tabu di negaranya (Bahrain/Arab) dengan membuka Sex shop. Kebetulan saya pernah tinggal di Qatar yang merupakan Negara tetangga Bahrain. Sama dengan Qatar, Bahrain adalah Negara kecil tapi sangat kaya karena minyak yang berlimpah. Qatar sendiri masih ketat melaksanakan syariat Islam sehingga toko seperti itu tidak mungkin ditemui disana tapi ketika membaca artikel tentang bisnis sex shop di Bahrain saya terkejut juga ternyata Bahrain mulai longgar menerapkan syariat Islamnya. Apakah karena kekayaan dan modernisasi di sebagian besar Negara Arab sehingga semakin lama warga Arabpun sudah tidak fanatik lagi (walaupun tinggal di Negara yang menetapkan syariat Islam).

Khadija Fashion Shop adalah toko yang menjual aksesoris seks yang pertama dibuka di Bahrain menurut pengakuan pemiliknya, Khadija Mohammed yang baru berumur 33 tahun, tokonya itu sangat laku. Barang-barang di tokonya dia dapatkan dari California dan China tapi ternyata tidak semua sex toys diperbolehkan dijual di Bahrain hanya sebagian saja yang boleh dijual, barang-barang yang menampilkan bentuk bagian badan manusia yang sensitive, termasuk gambar, foto, buku dan video porno tidak boleh dijual karena hal itu dilarang dalam Islam. Menurut Khadija yang paling laku adalah Lingerie dan Stileto yang sangat seksi, berbagai macam cream lalu asesori seperti latex, borgol, dll (peralatan untuk sadomasochism) cukup laris juga.

Khadija juga menerima pesanan dari Negara Arab Saudi, sebelum dia membuka tokonya penjualan dilakukan secara on line dan baru pada bulan Maret tahun ini Khadija berhasil menang di pengadilan untuk membuka tokonya secara legal karena ada celah hukum di Bahrain yang bisa dimanfaatkannya untuk membuka toko itu secara legal dan dianggap halal. Selama ini Khadija tidak mendapat kesulitan apapun atas bisnisnya, kesulitan muncul ketika orang tahu bahwa dia penganut Syiah. Walaupun banyak Muslim Syiah di Bahrain namun elit politik dipegang kalangan Muslim Sunni dan sudah sejak dahulu kala Syiah dan Suni susah akur sehingga diapun terkadang dapat tekanan dari penguasa setempat yang beraliran Suni. 

Tapi sejauh ini Khadija bisa mengatasinya dan dia berkata bahwa pelanggannya semakin banyak dan diapun mulai kewalahan menerima order. Apakah sukses Khadija ini akan diikuti negara Arab lain yang masih ketat menerapkan syariat Islam? Hal ini bukan tidak mungkin terjadi mengingat hukum Islam yang semakin fleksibel karena arus modernisasi dan Westernisasi.