Selasa, 13 Desember 2011 | 03:59 WIB
Dibaca: 258
![]() |
| Black Eyed Peas foto cosmopolitan.co.id |
Beberapa
tahun terakhir ini banyak penyanyi dan band terkenal dari luar negri
yang mengadakan konser di Indonesia, Seperti Justin Bieber, Avril
Lavigne, Bruno Mars, Black Eyed Peas, Iron Maiden, dll Tidak hanya para
musisi kelas atas saja yang menyerbu Indonesia, para musisi yang namanya
sudah mulai meredup dan para musisi Indie juga tertarik untuk tour ke
Indonesia.
Pada
masa keemasan industri musik dimana pada saat itu MP3 belum merajai
pasaran, jarang sekali musisi luar negri yang datang. Tapi saat ini
Frekuensi kedatangan para musisi itu semakin sering. Hampir tiap bulan
ada saja musisi luar yang tour ke Indonesia. Walaupun harga tiketnya
sangat mahal tapi tetap saja laris manis.
Dengan
pesatnya kemajuan teknologi internet, penjualan CD menurun sangat
drastis. Walaupun lagu-lagu para musisi itu bisa dijual lewat download
MP3 diinternet dengan harga murah (Sekitar Rp 8500 atau 0.99 US
Dollar/lagu). Tapi tetap saja banyak yang lebih suka download gratisan.
Apalagi saat ini tidak ada perusahaan label musik raksasa manapun
didunia yang mampu menandingi kekuatan YouTube. Ketika industri musik
tidak bisa mengimbangi pesatnya kemajuan internet maka bersiaplah untuk
bangkrut.
Kasus
terbesar tahun ini yang menimpa Industri musik dunia adalah bangkrutnya
perusahaan musik raksasa EMI karena tidak mampu membayar utang senilai
USD 4,79 M ke Citigroup hingga terpaksa menjual perusahaannya pada
SONY dan Universal pada November 2011. EMI didirikan tahun 1931
berpusat di London, Inggris dengan membuka studio rekaman legendaris di
Abbey Road (tempat the Beatles rekaman). Moby (DJ, pencipta lagu &
penyanyi) yg berada dibawah naungan EMI mengatakan bahwa salah satu
sebab EMI bangkrut, karena terlambat mengantisipasi kemajuan internet
dengan tetap bertahan pada penjualan CD. Berita tentang EMI bisa baca disini
Ketika
penjualan CD sudah terpuruk, akhirnya para musisi luar negri lebih
mengandalkan tour untuk tetap bertahan dan mengais keuntungan di
industri musik, karena saat ini bisa menjual ratusan juta keeping CD ke
seluruh dunia hanya impian belaka. Hanya musisi yang sempat menikmati
era pra MP3 yang mampu melakukan hal itu misalnya Michael Jackson,
Madonna, Mariah Carrey, Bon Jovi, Metallica dll. Saat ini hasil
penjualan tiket konser, merchandise dan kontrak iklan adalah harapan
terbesar para musisi. Merekapun semakin gencar melakukan konser dan tour
ke mancanegara termasuk Indonesia.
Invasi
para musisi luar negri itu setidaknya semakin memperkaya mereka, karena
masyarakat Indonesia terutama kalangan menengah keatas begitu antusias
menonton konser para musisi luar negri itu walaupun harga tiketnya
selangit. Tapi begitu musisi Indonesia mengadakan konser yang tidak gratis,
penontonnya sepi. Sejak awal lahirnya industri musik di Indonesia, para
musisi kita tidak terbiasa mengadakan tour keberbagai kota dengan
menjual tiket pada penonton. Hanya beberapa musisi yang benar-benar
sudah terkenal dan banyak penggemar yang berani mengadakan konser
tunggal dengan menjual tiket, itupun hanya di 1 atau 2 kota.
Serangkaian
tour dan konser para musisi dalam negri sebagian
besar gratis karena sudah disponsori berbagai perusahaan besar.
Akhirnya para musisi kita tidak bisa mengais rejeki dari hasil penjualan
tiket konser. Pemasukan terbesar tergantung dari hasil penjualan CD dan
RBT. Namun ketika
era keemasan kaset dan CD sudah berakhir dan perusahan musik tidak mampu
mengantisipasi kemajuan internet maka masa suram industri musik
Indonesia mulai terasa. Apalagi dihantam pula dengan kebijakan baru
pemerintah tentang pelarangan RBT yang mengakibatkan 70 perusahan musik Indonesia terancam bangkrut (lihat beritanya disini).
Jika sudah begini apalagi yang bisa diharapkan oleh perusahaan rekaman
dan para musisi Indonesia untuk tetap eksis didunia musik?
