| Senin, 30 Agustus 2010 | 02:23 WIB
Dibaca: 4807
Dibaca: 4807
Iwan Fals muncul di era orde baru dimana pada saat itu kebebasan bicara tidak seperti sekarang. Pers, mahasiswa dan seniman gerakannya sangat dibatasi apalagi musisi seperti Iwan fals yang syair lagunya dianggap terlalu provokatif. Tapi semakin tertindas, Iwan Fals malah semakin mengundang simpatik masyarakat dan menjadi idola karena dianggap sebagai sosok yang mampu mewakili kaum yang tertindas lewat lagu-lagunya.
Bahkan Majalah TIME mengangkat citranya sebagai ‘Hero’ bagi sebagian masyarakat Indonesia. Syair lagu Iwan Fals mengungkapkan realita kehidupan rakyat kecil, kesewenang-wenangan penguasa dan mengkritik perilaku seseorang atau kelompok misalnya lagu Oemar Bakri, Bongkar, Bento, Wakil Rakyat. Bahkan lagu Bongkar karya Iwan Fals dan Sawung Jabo dinobatkan sebagai lagu terbaik nomer 1 diantara 150 Lagu Indonesia Terbaik versi Majalah Rolling Stone Indonesia.
Alasan majalah Rolling Stone memilih Bongkar sebagai lagu terbaik adalah karena Bongkar dianggap lagu yang mampu mewakili kenyataan sosial, lagu yang mampu mengungkap sejarah hingga ke titik autentik bahwa kultur feodalisme begitu berurat akar ditanah tercinta ini. Para penguasa semata-mata menghamba pada kedudukan, bukan pada kepentingan rakyat kecil sehingga dihati mereka tak tersisa ruang sedikitpun bagi keadilan. Dari hari ke hari rakyat menyaksikan pameran keserakahan , ketidak pastian dan berbagai bentuk penindasan lainnya.
Ketika seluruh katup harapan telah tersumbat dan kesabaran sudah mencapai batasnya maka kesabaran dalam konteks kehidupan sosial Indonesia berpotensi menjadi amuk massa. Lagu Bongkar menawarkan solusi: “Turun Ke Jalan! Robohkan setan yang berdiri mengangkang!” Pada saat itu Lagu Bongkar dianggap sebagai nyanyian murung yang berbahaya. Selain Bongkar lagu Iwan Fals lain yaitu, Guru Oemar Bakrie, Bento dan Wakil Rakyat termasuk didalam deretan 150 Lagu Indonesia Terbaik versi majalah Rolling Stone Indonesia.
Era orde baru kini telah berlalu dan berganti dengan era reformasi, tapi jika kita amati dan renungkan, apakah ada perbedaan antara era orde baru dulu dan era reformasi saat ini? Perbedaan yang paling besar hanyalah kebebasan bicara. Di era reformasi ini orang bebas bicara dan mengekspresikan pikirannya apalagi ditunjang oleh keberadaan internet orang bisa bebas bicara apa saja di situs jejaring sosial, Blog, dll.
Perspun tidak takut dibredel jika mengulas berita yang dianggap sensitif, mahasiswa bisa demo sesuka hati, seniman dan musisipun bebas berkreasi.Tapi kenapa justru pada masa orang bebas bicara, malahan tidak ada musisi seperti Iwan fals, musisi yang muncul dengan lagu-lagu yang bisa dianggap menyuarakan hati nurani rakyat saat ini. Padahal kondisi rakyat di era reformasi ini tidak lebih baik dibandingkan pada era orde baru, pengangguran dan tingkat kemiskinan masih tinggi, nasib guru masih banyak yang seperti Oemar Bakri, korupsi merajalela dan masih banyak pejabat dan wakil rakyat yang kelakuannya seperti Bento, penindasan, perebutan kursi dan kekuasaan, bencana dimana-mana dll.
Semua kenyataan pahit itu ternyata tidak mampu melahirkan musisi seperti Iwan Fals, musisi yang bisa memotret kenyataan pahit itu lewat lagu-lagu yang bisa menyuarakan hati nurani rakyat kecil dan kepedihan kaum yang tertindas. Saat ini malahan semakin banyak musisi yang menciptakan lagu Easy Listening, memang lagu itu cepat populer dan meraih pemasukan yang besar tapi semua lagu itu tidak meninggalkan kesan mendalam dihati, cepat populer dan cepat pula dilupakan.
Apakah karena kebebasan ini yang membuat para musisi berpikir bahwa tanpa membuat syair yang provokatif pun masyarakat sudah bisa ngomong seenaknya?? Jadi tidak perlu lagi lagu yg sifatnya mengkritisi kondisi sosial saat ini karena masyarakat sudah bebas ngomong. Padahal pada kenyataannya bebas atau tidak bebas bicara, sama saja! Suara rakyat tetap tidak didengar…
Pada akhirnya masyarakat tetap butuh seorang yang bisa dijadikan pemersatu suara rakyat, entah itu musisi, politisi atau tokoh masyarakat lainnya, sehingga lewat figur tersebut jeritan kepedihan rakyat gaungnya terdengar lebih keras sampai ke level atas Sehingga bisa menarik perhatian para penguasa untuk lebih peduli terhadap penderitaan rakyatnya. Tapi mungkinkah lahir sosok seperti itu di era reformasi ini?
Lagu Bento + Syair ▼
