Kamis, 21 Oktober 2010 | 09:01 WIB
Dibaca: 4027
![]() |
| foto www.suspria81.deviantart.com |
Beberapa
hari lalu ada berita tentang 66 persen remaja putri usia sekolah
menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) di Indonesia
sudah tidak perawan. Data ini berdasar hasil Survei Komisi
Penanggulangan AIDS (KPA) yang dilakukan secara nasional. Sayang pihak
penyurvey tidak menyebutkan secara rinci berapa jumlah remaja putri yang
diteliti . Terlepas dari akurat atau tidak angka tersebut, namun jika
melihat kondisi saat ini angka itu bisa dipercaya mengingat generasi
muda saat ini seolah dikepung oleh seks dari berbagai arah. Misalnya
dari maraknya vcd dan buku2 porno, situs porno dari internet yang
semuanya begitu mudah didapat di Indonesia ini. Berita lengkapnya klik disini
Betapa
sulitnya mengurus ABG zaman sekarang. Apalagi umur antara 14-18 tahun
umur yang labil penuh gejolak petualangan, pemberontakan dan rasa ingin
tahu terhadap segala hal. Jika kita keras mereka melawan, jika kita
lemah lembut dan menuruti semua kemauannya kepala kita dinjak-injak,
Jika kita terlalu keras dan Overprotected si anak jadi seperti
tertekan dan asosial. Sungguh serba salah dan hal ini adalah ujian yang
terberat bagi orang tua, sebab jika kita salah mendidik, anaklah yang
jadi korban. Tapi yang tragis, ada pula orang tua yang sudah mendidik
anak dengan kasih sayang, perhatian, materi juga pendidikan agama yang
baik tapi hal tak terduga tetap saja terjadi.

Sumber: foto www.sctv.com
Seperti
kisah seorang ibu yang anak putrinya hamil diluar nikah padahal selama
ini anaknya dikenal sebagai anak yang baik, penurut dan rajin. Tapi
kenyataan berkata lain, sang putri berhasil diperdaya pacarnya untuk
melakukan hubungan intim. Walaupun sipria bertanggung jawab tapi
peristiwa itu telah menorehkan luka yang dalam karena selama ini mereka
dikenal sebagai keluarga yang saleh dan terhormat. Itulah kenyataan
pahit tentang sulitnya menebak anak remaja, sering Kita merasa sudah
mengenal baik anak kita tapi ternyata tidak.
Terkadang
kita sudah merasa melakukan pengawasan ketat contohnya dengan memasang
blokir situs porno pada internet di rumah tapi apakah kita tahu apa yang
si anak lakukan diluar rumah ? karena begitu banyak warnet di Indonesia
yang tidak memblokir situs porno. Selain itu para ABG itu sudah pandai
bersandiwara agar orang tua tidak curiga terhadap kelakuan mereka
sesungguhnya diluar rumah, baru jika sudah ada kasus, orang tua yang
kelimpungan dan kena getahnya padahal tidak semua orang tua bisa
disalahkan terhadap kasus yang menimpa anaknya, karena jika sudah berada
diluar rumah, orang tua sudah tidak bisa mengawasi anak-anaknya lagi
sebab lingkungan dan teman-temannya diluar rumah turut mempengaruhi
moral anak tersebut.
Sebagai orang tua
kita sudah berusaha keras memberikan yang terbaik disamping pendidikan
agama yang memadai kepada anak kita tapi kenyataannya sang anak dengan
gejolak usia mudanya lebih suka menjalani hidupnya sendiri, berada
didunianya sendiri walaupun mereka tidak sadar atau tidak siap dengan
resiko yang dihadapinya. Itulah problema menghadapi remaja apalagi
ditengah era dekadensi moral seperti sekarang ini.
Namun
apapun yang terjadi terhadap anak kita jangan pernah meremehkan,
memusuhi dan mengungkit terus kesalahannya karena hal itu semakin
memperparah rasa bersalah dan rasa percaya diri nya jika sudah gelap
mata akhirnya kabur dari rumah atau malah bunuh diri, sebaiknya
rangkulah dia sehingga menyadari kesalahannya dan jera mengulangi
perbuatannya walaupun perbuatannya itu menyakiti hati kita selaku orang
tua, tapi kelak sang anak akan merasakan hal itu jika sudah menjadi
orang tua . pada saat itulah biasanya dia akan mengerti betapa sulit dan
beratnya jadi orang tua yang baik itu...
