![]() |
| Ilustrasi |
Pada saat Uje meninggal, jenazahnya dishalatkan oleh ratusan ribu orang dan pemandangan itu mampu menggetarkan hati seorang muslim, karena didoakan dan dishalatkan banyak orang pada saat meninggal, adalah salah satu impian muslim untuk mengantarnya kembali pada sang pencipta setelah sekian lama mengembara didunia.
Ibu Tini, Seorang wanita berusia 65 tahun yang rajin mengikuti berita tentang Uje menangis saat melihat begitu banyaknya massa yang menyalatkan jenazah Uje. Aku mengerti apa yang menjadi kepedihan hatinya. Ibu Tini adalah seorang anak yatim piatu walau dia lahir dari keluarga besar dan punya 8 saudara lain tapi 4 sudah meninggal dan semua saudara terpencar pisah kota. Kalau dihitung jumlah saudaranya dari 1 keluarga ada 26 orang (adik, kakak, keponakan).
Ibu Tini sendiri tidak punya anak karena tidak pernah menikah dan sejak pensiun dia tinggal dengan adiknya di Jakarta. Saat berita tentang kematian Uje masih hangat, ibu Tini pernah bilang jika dia meninggal mungkin hanya sedikit orang yang menyalatkan dia mengingat dia hidup sendiri tak punya anak cucu. Saudara-saudaranyapun terpisah jauh. Dan sejak pensiun dia tidak aktif bersosialisasi hanya diam dirumah saja. Sungguh memilukan tak punya anak cucu dan teman dihari tua. Kalaupun semua berkumpul mungkin tak sampai 50 orang yang akan menyalatkannya kelak katanya...
Saat itu aku hanya bisa menghibur hatinya dengan mengatakan bahwa Uje adalah seorang yang terkenal dinegri ini wajar jika beliau dishalatkan oleh ratusan ribu orang. Tapi waktu itu ibu Tini sempat berdoa semoga dia tidak meninggal dalam kesendirian dan kesepian tapi dishalatkan oleh banyak orang...
Sebulan yang lalu bu Tini kena stroke dan harus menjalani perawatan intensif dirumah, setelah kondisinya membaik dan bisa jalan lagi seperti semula, ibu Tini tiba-tiba kena stroke lagi hingga akhirnya meninggal dunia hari kamis lalu. Tapi siapa yang menduga pada hari kamis itu dimesjid dekat rumah bu Tini yang kapasitasnya cukup besar, sedang ada kegiatan kajian dan pengajian karena ustadnya cukup terkenal, acara itu hadiri oleh ratusan orang hingga mesjid penuh sesak.
Adiknya ibu Tini yang kenal dengan panitia dan beberapa orang yang terlibat dalam acara itu ditawarkan oleh mereka untuk membawa jenazah ibu Tini dan dishalatkan dimesjid itu. Tentu saja tawaran itu disambut dengan suka cita oleh adik ibu Tini. Setelah beres dimandikan dan dikafani, jenazah ibu Tini ditandu ke mesjid itu lalu dishalatkan oleh ratusan jemaah yang sedang berkumpul disana. Tak hanya itu ketika jenazah dibawa ke Bandung (karena adik-adiknya minta dimakamkan di Bandung) ternyata jumlah tamu diluar dugaan.
Teman-temannya yang dulu tak pernah kontak sama sekali tiba-tiba muncul begitu tahu berita ibu Tini meninggal kebetulan adiknya punya alamat 1 sahabat bu Tini dulu, sahabatnya itulah yang menyebarkan berita kematiannya. Belum lagi saudara-saudara yang lain (bukan saudara kandung) dari pihak ibu dan ayahnya banyak yang datang bawa anak cucunya ikut menyalatkan Almarhum dan mengantarkan hingga pemakaman.
Akupun terharu menyaksikan pemandangan itu, Allah ternyata mengabulkan doa ibu Tini dengan cara yang tak terduga. Secara logika karena bu Tini hidup menyendiri tak akan banyak orang yang menyalatkan jenazahnya tapi Allah berkendak lain... Semasa hidupnya ibu Tini termasuk dermawan dan mudah menolong orang lain. Mungkin kebiasaan baiknya itulah yang membuat doa Ibu Tini terkabul walau dia bukan siapa-siapa dan tak setenar Uje tapi keinginannya dishalatkan banyak orang akhirnya tercapai juga...
