
- Matt Damon, foto fanpop.com
Ruang fitness itu riuh dengan teriakan para wanita yang sibuk mengikuti langkah instruktur aerobic yang bergerak sangat dinamis kesana kemari sesuai irama demi membakar lemak yang menggelambir dibadan. Lagu-lagu pop yang sudah diremix jadi lebih ngedance terasa begitu menghentak dan menambah semangat, mulai dari PSY, Lady Gaga, Jennifer Lopez, Swedish House Mafia, David Guetta hingga terakhir Call Me Maybe Carly Rae Jepsen.
Sambil bergoyang mengikuti irama, akupun menyanyi syair lagu penyanyi imut itu,
"Hey, I just met you, And this is crazy, But here's my number, So call me, maybe?"
"It's hard to look right, At you baby, But here's my number, So call me, maybe?"
"Hey, I just met you, And this is crazy, But here's my number, So call me, maybe?"
"And all the other boys, Try to chase me, But here's my number, So call me, maybe?"
Lagu itu begitu kusukai hingga hapal liriknya diluar kepala aku sudah tak peduli ibu-ibu yang melirik padaku karena terus bernyanyi, mungkin telinganya terganggu dengar suaraku yang cempreng... Habis senam keringat mengucur begitu deras, akupun duduk di cafenya sambil nunggu antrian ruang ganti. Gara-gara lagu Call Me Maybe pikiranku melayang pada seorang pria...
*************
Pria itu bernama Dieter dia begitu tampan dan wajahnya mirip Matt Damon, badannya sangat atletis persis seperti pria yang ada divideo Call Me Maybe. Perkenalannya denganku terjadi karena aku tinggal satu rumah dengan dia, rumah itu ada 3 kamar yang disewakan untuk mahasiswa. Sebenarnya aku lebih suka tinggal di Studenten Wohnheim (asrama mahasiswa) tapi karena masuk daftar tunggu, terpaksa aku sewa dirumahan sambil nunggu ada tempat di asrama.
Saat itu aku tinggal dengan Dieter dan Udo yang sudah punya pacar dan sempat dibawa kerumah. Tak seperti Udo yang jarang ada dirumah, Dieter sering berada dirumah. Awalnya dia acuh padaku tapi karena aku sering masak, lama-lama dia suka nangkring juga didapur mencicipi masakanku. Beberapa kali dia memuji masakanku membuatku tambah semangat masak, hati siapa yang tak berbunga-bunga dipuji oleh pria tampan? Karena makanan hubungan kami jadi dekat, aku sering cuthat sama dia dan dia jadi pendengar yang baik walau dia tak terlalu banyak cerita tentang keluarganya. Karena kedekatan itulah timbul benih-benih cinta dihatiku, kalau sedang sendiri dikamar aku sering membayangkan wajah dan tubuhnya yang berotot...
Hari berganti hari aku semakin semangat membuat masakan yang enak, aku sengaja belajar masakan Italy kesukaannya, mulai dari spaghetti, lasagna dan macaroni Schottel. Diapun semakin senang karena aku sering membuatkan makanan untuknya. Udo yang jarang pulang membuat rumah terasa milik kami berdua.Kami juga beberapa kali nonton bersama dan jalan-jalan menyusuri pusat kota tua Heidelberg yang indah. Sejak memendam cinta aku begitu rajin merawat badanku biar dia terpesona padaku. Pernah dia memegang tanganku dan membelainya sambil berkata,
"Kulitmu indah sekali, disini kami rela berjemur-berjam-jam atau tanning biar punya kulit coklat sepertimu" wah... betapa melambungnya perasaanku saat itu,
Dalam hati aku berkata," Engga percuma dulu tak tergoda berbagai macam krem pemutih badan, karena kulit coklat disini ternyata lebih sexy, hihhi..."
Setelah dia berani membelai tanganku, aku jadi GR jangan-jangan itu pertanda dia suka padaku... Awalnya aku sabar menunggu, tapi hari demi hari berganti tak ada sepatah kata cintapun keluar dari mulutnya padahal hubungan kami semakin akrab. Hingga suatu saat aku sudah tak tahan lagi memendam rasa cinta ini, aku menatap cermin dan kupandangi wajah dan seluruh tubuhku, apa yang kurang siiih?? Kenapa dia tak tertarik padaku? Apakah dia sudah punya pacar? Tapi aku tak pernah lihat dia bawa cewek kerumah ini. Akhirnya aku putuskan untuk menyatakan cintaku padanya.
Setelah beres di kampus, aku langsung ke supermarket terdekat belanja bahan makanan untuk dinner, aku akan buat masakan yang super lezat biar dia semakin terpesona dan usahaku untuk "nembak" lancar.
Tapi seperti ada bisikan dalam hatiku, "Jangan nembak duluan, malu doong kamu kan cewek, mana harga dirimu??"
Tapi disisi lain, seolah ada yang manasi,"Kalau kamu engga nembak duluan, kapan jadiannya?? Please deeh hari ginii, masih nunggu cowok nembak duluan??."
Akhirnya pertarungan hati dimenangkan oleh sipemanas... Setelah beres belanja aku segera bergegas menuju rumah tak lupa kuambil sekotak es krim dan sebotol Liqueur kesukaannya.
Aku tahu Dieter sangat suka daging ayam, aku mau buat ayam bakar dan Farfalle (spageti yang bentuknya seperti kupu-kupu) dipadukan dengan udang, asparagus + sahne (susu kental) hmm rasanya maknyoos... Setelah beres masak akupun berendam di bathtub sewangi mungkin lalu aku memakai pakaian casual tapi sexy.

- Ayam bakar foto wienerwald.co.it
Tak lama kemudian dia pulang, tapi aku sengaja tak keluar kamar aku ingin dia yang mengetuk pintuku... Kira-kira sejam kemudian terdengar ketukan dipintuku...
"Hai, aku lihat makanan didapur, untuk siapa?" tanyanya padaku
"Oh, aku sengaja masak, untuk kita berdua, yuk kita makan!" kataku
Waktu lihat masakanku, mata Dieter langsung berbinar,
"Wow... super!! katanya.
Dia nampak menelan air liur melihat ayam panggang yang menggiurkan didepan matanya. "Hmmm... menu yang istimewa, ada ayam bakar, Farfale udang, salat zuchini, Es krim, Liqueur ada apa nih? Tanyanya padaku. Ku jawab, "Ah engga ada apa-apa hanya ingin masak enak saja buatmu."
Kamipun makan sambil diselingi obrolan ringan, aku tak begitu banyak bicara karena hatiku begitu gemuruh dan berdebar-debar memikirkan apa yang akan kukatakan padanya?? Usai makan dan menyantap es krim yang dicampur dengan sedikit liqueur, mendadak tubuhku terasa hangat dan rasa percaya diriku bertambah... akupun terdiam sejenak menyusun kekuatan, "Duuh betapa sulitnya menyatakan cinta, rasanya seperti menahan beban ratusan kilo..." tapi aku menguatkan batin karena aku merasa yakin Dieter juga mencintaiku...
"Dieter..." suaraku agak sedikit tercekat... "Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, tapi janji jangan menertawaiku yaaa...!" Kataku
"Oke, bilang saja, aku janji tak akan mengecewakanmu..." Katanya sambil tersenyum...
"Ich Liebe Dich..." kataku lirih sambil menatap matanya penuh harap...
Tiba-tiba raut wajah Dieter berubah, agak memerah dan matanya menatap nanar padaku... suasana hening itu terasa begitu menyiksa... Berbagai perasaan berkecamuk dihatiku. Karena dia diam tak mengeluarkan sepatah katapun, akhirnya aku berdiri
"Maaf aku sudah membuatmu kaget, aku hanya ingin mengatakan perasaanku yang sebenarnya, aku tersiksa memikirkan ini setiap hari.." Akupun beranjak dari meja mau menuju kamarku. Tiba-tiba Dieter memegang tanganku, tanpa sepatah katapun dia menarik tanganku menuju kamarnya. Hatiku berdebar sangat kencang karena tak seperti biasanya dia mengizinkan orang lain masuk kamarnya termasuk aku walaupun kami tinggal serumah, kamarnya selalu tertutup dan jika pergi selalu dikunci hingga aku tak pernah tahu isi kamarnya.
Diapun jarang sekali masuk kekamarku, kami selalu ngobrol didapur atau diteras. Sempat terlintas rasa heran dalam benaku, kenapa dia begitu tertutup dengan kamarnya? Tapi kupikir mungkin kebiasaan orang Bule ketat dengan privacy jadi akupun tak ambil pusing... Begitu kamarnya terbuka, tampak begitu rapih dan ada tumpukan majalah disamping ranjangnya.
Dia bilang, "duduklah" lalu dia mengambil satu majalah sambil berkata,
"Aku benar-benar minta maaf padamu, aku mengerti perasaanmu padaku, tapi aku menyesal tak bisa membalas cintamu..." Hening sejenak... dia melanjutkan,"karena aku... karena aku... gay..."
Katanya sambil memberikan majalah yang dipegangnya padaku...
Dhuaaarr... kupingku bagai disambar halilintar, berbagai perasaan berkecamuk dihatiku antara malu, terhina, sedih, sakit dan sesuatu yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata. Akupun melirik majalah yang dia berikan padaku ternyata majalah pria dewasa khusus Gay... Ingin rasanya aku berlari dan meninggalkan rumah itu sesegera mungkin.
Dieter seperti mengerti perasaanku, "Tak perlu malu, aku tetap jadi teman setiamu. Maafkan aku, karena aku tak bisa mencintai wanita... Tapi selama ini aku lebih suka diam dengan kondisiku ini. Akupun tak menyangka kamu mencintaiku karena sikapmu selama ini terlihat wajar dimataku, seperti layaknya seorang sahabat... jadi aku tak menyangka kamu mencintaiku... maafkan aku yaa..."
Dengan langkah gontai akupun berjalan menuju kamarku dan menghempaskan badanku dikasur, dalam hati aku mengumpat "uuuh bodohnya aku!! kenapa tak bisa melihat dia Gay?? dia begitu gagah, atletis dan gentleman mana mungkin dia gay??, aku engga percaya!!! tapi majalah2 itu???" Akupun melihat isi majalah yang dia berikan padaku, kepalaku langsung pening dan dunia terasa berputar melihat adegan mesra antara dua pria dimajalah itu. Kulempar majalah itu sekerasnya dan akupun terus menangis hingga tertidur..
Esok paginya Dieter sudah tak ada, menjelang sore dia pulang kerumah dengan seorang pria tampan yang imut, cute tapi badannya lebih mungil sekilas saja aku dah bisa lihat kalau cowok ini pasti maho beda dengan Dieter yang macho hingga sulit dipercaya dia gay.
"Kenalkan, temanku Oliver" kata Dieter. Kami berbasa-basi sebentar dan merekapun masuk kamar, aku sudah tak mau membayangkan apa yang terjadi dikamar itu aku keluar rumah menelusuri jalanan kota tua dengan hati terluka... Whoaa.. ginilah rasanya ditolak cinta...
Sejak itu hubungan kami agak canggung, walau aku berusaha bersikap biasa tapi rasa malu sudah begitu meraja didada, untunglah tak lama kemudian aku dapat surat pemberitahuan ada kamar kosong di asrama mahasiswa. Aku melompat gembira seolah terlepas dari beban sangat berat, akhirnya... ada alasan yang kuat untuk angkat koper dari situ meninggalkan Dieter dan Oliver yang nampak semakin mesra dari hari kehari...
"Hey!! Ngelamun aja, engga mandi?" Kata Nina teman senamku yang baru keluar dari ruang ganti. Teriakan Nina itu sontak membuyarkan lamunanku,
"Oh ya... tadi penuh makanya nongkrong dulu disini.." kataku..
"Udah agak kosong tuh.." kata Nina
"Oke deh aku mandi dulu yaa bau heok niih, hihihi..." kataku...
Akupun bergegas keruang ganti sambil mulut komat kamit bernyanyi mengikuti lagu Call Me Maybe yang kembali bergema diruangan itu
"Hey, I just met you, And this is crazy, But here's my number, So call me, maybe?"
"It's hard to look right, At you baby, But here's my number, So call me, maybe?"...