| 1/2 Kg daging, foto cdn2.bigcomerce.com |
Seperti biasa tiap pagi aku buat sarapan pagi untuk dua anakku yang baru gede dan ibuku. Setelah beres sarapan mulailah kebiasaan aku beres-beres rumah sambil nunggu tukang sayur lewat, karena hari minggu anak-anak ikut bantu sementara ibuku siap-siap mau pergi pengajian. Tak lama kemudian teriakan khas mang Bahri menggema dijalanan, "Yur... Yur!" akupun bergegas ke teras dan melambaikan tangan ke mang sayur, "Mang kadieu!" (mang kesini) dengan gesit mang Bahri mendorong rodanya kerumahku.
Aku mulai milih-milih sayuran yang mau dibeli untuk makan kami sekeluarga. Gaji Rp 1.500.000,- perbulan membuatku pusing tujuh keliling jika harus masak dengan hidangan yang layak karena uang segitu harus cukup untuk listrik, gas, beras, air isi ulang (karena di kompleksku airnya keruh jadi untuk masak harus beli air), ongkosku dan anak-anaku...
Disinilah tantangan terbesar buatku untuk bisa masak berbagai bahan makanan murah tapi variatif walaupun menunya beda-beda bahan dasarnya sama saja, misalnya hari ini goreng tempe mendoan, besok tempe tumis cabe hijau, besoknya tempe bacem. Kadang raut kebosanan terlihat diwajah anak-anakku saat mereka melihat hidangan di meja tempe lagi, tahu lagi dan sayur asem, sayur lodeh dan tumis dll, karena makan daging ayampun hanya bisa beberapa hari sekali. Apalagi daging sapi, sudah jadi makanan langka dan mewah buat kami. Merekapun nampak makin kurus karena jarang makan masakan yang bergizi tinggi.
Disaat pikiranku sedang bingung masak apa hari itu, tiba-tiba mataku tertuju pada seonggok daging di kantong plastik. Aku tergoda dan bertanya, "Mang eta daging sabaraha?" (mang itu daging berapa)
"Kedahna mah 50 rebu tapi ka eneng mah 48 rebu wae setengah kilo." (harusnya 50 ribu tapi buat eneng sih 48 ribu aja ½ kg).
Sejenak aku tertegun dalam hati aku membatin, "Huh mahal banget, sekilo seratus ribu!! Duuh... gimana mau beli daging 50 ribu kalau jatah belanja makanan saja maksimal 20 ribu perhari??" Tiba-tiba wajah anak-anak dan ibuku terbayang dalam benaku, sudah hampir 1 tahun ini kami tak pernah makan daging sapi. Batinku menjerit, ingin rasanya membahagiakan anak dan ibuku, sesekali jangan hanya makan itu lagi itu lagi, tapi apalah daya aku sudah tak mampu beli daging saat ini.
Terbiasa belanja pas-pasan otakku diam-diam mulai menghitung kalau beli ½ kilo daging + bumbu bumbu dan sayur kira-kira habis berapa? Perkiraanku tak sampai 70 ribu, dalam hati kuberkata, "Yach ngga apa apa deh, buat besok-besok gimana nanti yang penting anaku happy". Akhirnya aku beli juga daging ½ kilo itu tak lupa kubeli kelapa parut dan bahan lainnya. Setelah beres mang Bahri menghitung jumlah belanjaan,
"Genep puluh tilu rebu, sadayana" (enampuluh tiga ribu semuanya)
Akupun membayarnya walau hati masih galau karena belanja over budget hari itu.
"Tapi ya sudahlah nanti dipikirin lagi nambalnya darimana?" hiburku dalam hati.
Tadinya ½ kilo daging itu mau kubuat rendang tapi rendang itu boros bumbu dan santan sementara harga cabe lagi naik, bawang merah dan bawang putih naik. "Gila!! gimana mau buat makanan kaya bumbu jika bahan dasarnya semua naik??" gerutuku. Akhirnya kuputuskan masak daging serundeng, karena serundeng bisa membuat kamufalase seolah masakannya banyak padahal isinya Cuma beberapa potong daging (maklum Cuma ½ kilo) tapi piringnya penuh dengan kelapa.
Hihihi.. aku tertawa sendiri memuji akal licikku mengelabui masakan. Walau proses buat serundeng itu lama karena harus dimasak dengan api kecil untuk hasil yang maksimal tapi aku tetap semangat dan memberi bumbu sesedap mungkin untuk ½ kilo daging karena jika gagal masaknya hilanglah kesempatan untuk menyenangkan anak-anak dan ibuku hari ini.
| Serundeng daging sapi foto wikiresep.com |
Sambil memasak pikiranku melayang pada hari raya kurban tahun lalu, hari dimana kami seharusnya bisa makan daging sapi karena kami dapat jatah 1/2 kilo daging sapi untuk keluargaku. Ibu dan anaku sudah gembira membayangkan bakal makan kari daging sapi dan lontong. Kalau untuk urusan masak kari ibuku sangat pandai dia bisa membuat kari yang sangat sedap.
Sore hari saat idul Adha, aku ditelpon ibu Eli salah seorang kenalanku, aku disuruh datang kerumahnya ambil daging sapi kurban. Dengan suka cita aku kesana dan tanpa berlama-lama aku langsung pulang membawa sekantong daging sapi dan disambut keceriaan anak-anak dan ibuku karena merasa akan makan besar hari itu.
Tapi saat ibuku mau memasaknya, ibuku tiba-tiba teriak," Wah dagingnya bau!"
aku segera berlari kedapur, "Bau gimana?' tadi ambil dari kulkas koq!" kataku,
ibuku bilang,"Lihat aja sendiri warnanya dan cium dagingnya!"
Akupun lihat ke daging itu nampak sedikit lebih ungu warnanya dan aromanya agak bau. Tapi aku tetap berkeras, "Gini aja kita coba masak terus airnya buang 2-3 kali sebelum diberi bumbu",
kata ibu, "Terserah, ibu sih udah ngga mau makan, mendingan buang aja sayang gas dan air!"
Aku tetap rebus daging itu setelah mendidih dibuang airnya dan diulangi hal itu sampai 3x. Pada rebusan ke 4 aku mulai masukan garam dan bumbu penyedap. Waktu aku coba rasakan air kaldunya beberapa sendok tak lama kemudian kepalaku terasa muter dan perutku mual,
"Waduh gawat nih! Bener juga ini daging udah engga bisa dimakan, airnya aja sudah bikin teler apalagi dagingnya!" kataku.
Akhirnya daging kubuang, kekecewaan nampak pada wajah anak-anak dan ibuku yang tadinya mau makan daging. Akupun hanya bisa tertunduk dan meratap dalam hati, "Betapa hinanya aku karena tak mampu membahagiakan anak-anak dan ibuku walau dengan ½ kg daging gratis!!"
Sambil memasak tak terasa air mataku menetes jika teringat daging kurban itu, aku semakin semangat memasak daging serundeng ini seenak mungkin untuk mengobati kekecewaan mereka dulu. Tak lama kemudian ibuku pulang dari pengajian dia menghampiriku ke dapur, "Masak apa wangi banget?" tanyanya,
"Serundeng daging istimewa" kataku sambil tersenyum
"Tumben, uang darimana beli daging?" tanya ibuku padaku
"Ada yang ngasih" jawabku sekenanya. Akupun coba mengalihkan perhatiannya biar ibu tak bertanya-tanya lagi soal uang belanja, ibupun masuk kekamarnya.
Sekitar jam 1 siang, makanan sudah siap dimeja. Daging serundeng, sayur kacang dan tahu tumis cabe hijau. Kami berkumpul dimeja makan anak-anak makan lahap sekali maklum sudah lama tak makan daging, strategiku buat daging serundeng ternyata jitu. Mereka sangat suka mencampur nasinya dengan serundeng saat dagingnya habis walau tanpa daging, serundeng masih nikmat dimakan dengan nasi. Betapa bahagianya melihat anak-anak dan ibuku begitu lahap menyantap masakanku.
Ditengah kebahagiaan itu tiba-tiba hatiku terasa sakit jika membayangkan gimana jika gara-gara ½ kg daging yang dimakan hari ini, diakhir-akhir bulan kami hanya makan dengan nasi + telur saja? Dalam hati aku berdoa, "Ya Allah aku sudah pakai jatah uang belanja beberapa hari untuk bisa menyenangkan ibu dan anak-anaku hari ini, berilah aku rejeki darimana saja agar ibu dan anak-anaku bisa makan yang layak sampai akhir bulan." tanpa kusadari aku menghela napas panjang...
Ibuku tiba-tiba memandangku, aku merasa naluri keibuannya tahu bahwa anaknya sedang berbohong dan galau gara-gara ½ kg daging yang aku beli tadi. Tapi aku pura-pura tak mengerti dan masuk kekamarku. Diatas ranjang aku menghibur diri dalam hati, akhir bulan tinggal 10 hari lagi semoga aku bisa pakai uang yang tersisa seefektif mungkin. Dan seperti biasa otakku mulai berputar menyusun menu murah meriah, besok masak apa ya? Tahu dibikin apa lagi biar anak-anak engga bosan?? Tempe?? Ikan asin?? Tumis kangkung??... karena lelah akupun tertidur dengan otak penuh dengan kalkulasi belanja menu low budget tanpa daging dan ayam hingga akhir bulan...